Damai Itu Indah..........Damai Itu Indah..........Damai Itu Indah..........Damai Itu Indah..........

Identitas Empat Terduga Teroris Poso Telah Diketahui

Rabu, 31 Oktober 2012 | 0 komentar


Empat dari enam terduga teroris Poso yang diringkus dalam penggerebekkan polisi bersama anggota TNI di Desa Kalora, Kecamatan Poso Pesisir Utara, Sulawesi Tengah, telah diketahui identitasnya.

Kapolda Sulteng, Brigjen Pol Dewa Parsana di Mapolres Poso, menyebutkan, keempat terduga teroris itu adalah Jippo alias Ibeng, tewas tertembak. Muhammad alias Rahmad dan Cecep alias Natsir tertangkap dalam kondisi luka karena tertembak serta Farhan ditangkap tanpa cedera, sedangkan dua lainnya belum diumumkan nama mereka.

Kapolda Dewa Parsana belum memberikan penjelasan mengenai jaringan atau kelompok mereka serta peran masing-masing karena masih dalam pemeriksaan.

Sementara jenazah Jippo alias Ibeng yang dilaporkan mengalami luka tembak di kepala dan paha, saat ini telah berada di Bandara Mutiara Palu untuk menunggu pesawat yang akan membawanya ke Jakarta untuk diotopsi di RS Polri setelah disimpan sementara di RSU Bhayangkara Palu.

Sedangkan Muhammad alias Rahmad dan Cecep alias Natsir yang terluka, tampaknya sangat dirahasiakan keberadaan mereka, namun ada informasi bahwa mereka masih menjalani perawatan di RSU Bhayangkara Palu.

Dakwah Islam Tekankan Dialog bukan Kekerasan

Selasa, 23 Oktober 2012 | 0 komentar


Kebhinekaan bangsa ini tetap harus dijaga. Karena setiap saat sikap intoleran yang berujung pada kekerasan terus saja membayangi. Apabila dipandang sebagai negatif, tentu bisa dikatakan biang keladinya adalah perbedaan. Namun tidak jika perbedaan dipandang sebagai fitrah dan sunatullah.

Sejatinya sikap ekstrem dalam beragama dan pemaksaan kebenaran yang makin sering muncul saat kini terjadi lantaran salah dalam memahami perbedaan. Kalangan intoleran melupakan bahwa negara dan bangsa Indonesia lahir dari 17.000 pulau, banyak keyakinan dan cara pandang. Ini adalah fakta yang tak mungkin dielak atau bisa disebut dengan fitrah dan sunatullah. Pernyataan tersebut terlontar dari Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor, Nusron Wahid.

Dan rasa-rasanya tidak ada sistem politik yang dapat menampung perbedaan sedemikian rupa selain demokrasi. Maka menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi dengan prinsip menghargai hak manusia untuk berpendapat dan beribadah merupakan keharusan. Pada sisi ini demokrasi sejalan dengan semangat kebhinekaan bangsa. “Ketidaksetujuan dan perselisihan mesti diselesaikan dengan dialog dan semangat kebersamaan,” demikian tutur Nusron.

Kekerasan yang mengatasnamakan agama sejatinya tidak memiliki pendasaran yang kuat dalam Islam. Jalan damai selalu diajarkan Islam. Apalagi Islam juga tidak pernah mengajarkan untuk memaksakan kehendak pada orang lain. Maka menutup ruang dialog dan diskusi merupakan bencana besar, sama saja menutup pendapat setiap orang untuk saling berbagi. Dialog adalah cara yang diajarkan Islam dalam berdakwah. [

Aku Malala, Aku Anti-Taliban

Senin, 22 Oktober 2012 | 0 komentar


Adalah Malala Yousafzai, aktivis remaja berusia 14 tahun korban penembakan Taliban. Malala mulai muncul di hadapan publik sejak usia 11 tahun. Saat itu ia menulis di blog BBB berbahasa urdu, dengan sebuah nama pena, untuk melawan perlakuan tidak sewenang-wenang kelompok Taliban di kampung halamannya.

Koran India, The Hindu, melaporkan, pasca kejadian penembakan terhadap Malala, banyak remaja perempuan di Afghanistan mengatakan “Saya Malala”. Ini sebagai bentuk tantangan terhadap pernyataan jubir Taliban, Ihsanullah Ihsan, yang berjanji akan membunuh Malala jika masih hidup.

Taliban, kelompok teroris bentukan AS saat perang melawan pengaruh Soviet, melarang anak-anak perempuan memasuki sekolah. Bagi mereka, perempuan bersekolah itu merupakan simbol kebudayaan barat.

Tak sedikit perempuan, termasuk anak-anak, menjadi korban kebrutalan Taliban. Terkadang, dalam urusan seperti berpakaian, Taliban mengatur mana yang pantas dan tidak pantas dikenakan oleh perempuan. Taliban melarang baju warna-warni.

Malala bersuara keras menentang semua itu. Tak hanya di blog, ia aktif berkampanye untuk memperjuangkan hak perempuan atas pendidikan. Ia melakukan itu di kampung halamannya, Mingora, lembah Swat, Pakistan Utara, sebuah daerah yang dikontrol Taliban sejak tahun 2007 hingga sekarang.

Sejak Januari 2009, Taliban menutup sekolah-sekolah dan melarang perempuan bersekolah. Tetapi anak-anak perempuan di lemba Swat tak takut. Mereka tetap memilih pergi ke sekolah. Ini berkat kampanye terus-menerus dari Malala.

Pada 9 Oktober lalu, saat Malala Yousafzai bersama dua rekannya, Shazia Ramzan and Kainat Ahmed, di dalam sebuah bus sepulang dari sekolah, pasukan bersenjata Taliban menembaknya dalam jarak dekat. Peluru Taliban bersarang di leher dan kepalanya. Tembakan teroris juga melukai dua kawannya yang lain.

Saat itu, seperti dituturkan kawannya yang melihat kejadian, kelompok Taliban menghentikan bus yang ditumpangi Malala. Ia menanyakan siapa yang bernama “Malala Yousafzai”. Tak satupun diantara rekan Malala yang menjawab atau menunjuk. Tembakan jarak dekat pun menyalak.

Saat ini dukungan terhadap pun terus berdatangan. Tak hanya dukungan dari rakyat di negerinya, Pakistan, tetapi juga dukungan masyarakat internasional. Tak salah jurnalis Pakistan, Ahmed Rashid, menulis di New Yorker menyebut Malala sebagai “teladan tak hanya untuk anak-anak di wilayahnya, tetapi juga menjadi simbol dari perdamaian.” 

Menkopolhukam Kecam Pelaku Bom Poso

| 0 komentar


Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto mengecam pelaku peledakan bom di Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng). Ia memerintahkan aparat keamanan menangkap pelakunya. “Ya betul (ada peledakan bom di Poso). Insiden ini sangat disesalkan dan saya kecam keras pelaku tindakan yang sangat tidak terpuji ini,” kata Djoko, seperti dilansir Kompas.com, Senin, 22/10/2012.

Seperti diberitakan, bom meledak di dekat pos polisi lalu lintas di Poso, Senin pagi, pukul 06.15 waktu setempat. Kejadian ini mengakibatkan tiga orang luka parah. Aparat keamanan masih menyelidiki kejadian ini. “Aparat keamanan akan segera mencari dan menangkap para pelaku kejahatan ini,” ungkapnya.

Ia juga mengimbau warga Poso tetap tenang dan dapat menahan diri terhadap provokasi-provokasi yang tidak baik ini. “Peristiwa itu sangat disesalkan. Tidak ada dalil pembenaran terhadap tindakan yang tidak berperikemanusiaan ini,” imbuhnya seperti dilansir Inilah.com, 22/10/2012.

Menurut dia, aksi itu tidak dapat ditolerir dan harus segera diambil tindakan tegas. Djoko mendesak aparat kepolisian segera menangkap para pelaku teror yang sudah meresahkan masyarakat itu. “Pelakunya harus segera ditangkap dan diadili,” pungkasnya.

Radikalisasi Muslim Indonesia Bersumber dari Pengaruh Luar

| 0 komentar


Banyak pakar yang mentesiskan bahwa sejatinya Islam yang dipeluk masyarakat Indonesia bercorak moderat dan damai. Namun kehadiran aktor-aktor terorisme yang berasal dari nusantara belakangan ini mencuatkan tanya atas tesis tersebut. Beberapa pernyataan mencoba menjawab dengan mengatakan bahwa paham ke-Islaman radikal dan teror diakibatkan dari injeksi dan pengaruh dari luar.

Menurut Ketua Umum Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj salah satu aliran Islam asing yang turut terlibat dalam proses radikalisasi muslim Indonesia adalah Wahabi. Bahkan pada titik tertentu Ajaran Wahabi bisa mendorong orang untuk melakukan aksi-aksi terorisme. Namun menurut Kyai Siad Aqil, hal ini bukan berarti bahwa Wahabi adalah teroris.

“Saya tidak pernah mengatakan Wahabi teroris, banyak orang salah paham. Tapi doktrin, ajaran Wahabi dapat mendorong anak-anak muda menjadi teroris. Karena ketika mereka megatakan tahlilan musyrik, haul dan istighosah bidah, musyrik, dan ini-itu musyrik. Jadi ajaran Wahabi itu bagi anak-anak muda berbahaya” tutur Said Aqil.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa di Indonesia beberapa lembaga atau yayasan pendidikan di Indonesia didanai oleh masyarakat Saudi beraliran Wahabi. Namun meskipun Wahabi adalah aliran Islam yang mendapat legitimasi Pemerintah Arab Saudi, bukan berarti dana Wahabi tersebut adalah dana pemerintah Arab Saudi.

“Beberapa lembaga atau yayasan pendidikan di Indonesia didanai oleh masyarakat Saudi beraliran Wahabi, Ingat, bukan pemerintah Arab Saudi. Dana dari masyarakat membiayai pesantren baru muncul, di antaranya; Asshofwah, Assunnah, Al Fitroh, Annida. Mereka ada di Kebon Nanas, Lenteng Agung, Jakarta, Sukabumi, Bogor, Jember, Surabaya, Cirebon, Lampung dan Mataram” ungkap Ketua PBNU saat ini. 

Said Aqil Siradj: Ajaran Wahabi Mendorong Orang Menjadi Teroris

| 0 komentar


Pemahaman keagamaan radikal sangat berperan dalam melahirkan figur-figur teroris. Bahkan bisa dibilang terorisme hanya mungkin jika pemahaman tersebut hadir. Dari kasus-kasus terorisme bermotifkan agama di Indonesia misalnya, tampak bahwa para teroris telah terinfeksi corak berpikir ektrim sedemikian hingga menganggap bahwa Jihad dalam pengertian perang harus dilaksanakan, orang kafir halal darahnya dan semua hasil peradaban kini adalah setan.

Maka upaya untuk menuntaskan persoalan terorisme, harus juga menyelidiki basis ideologi yang menopangnya, dalam hal ini pemahaman keagamaan seperti apa yang melandasi terorisme.

Dalam sejarah Islam dikenal beberapa sekte pemikiran keagamaan yang bisa dikatakan ekstrim seperti khawarij. Menurut Ketua Umum Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj, ajaran-ajaran Wahabi juga menyimpan benih-benih paradigma radikal dan ekstrim. Bahkan tidak menutup kemungkinan ajaran yang berkembang di Saudi Arab ini melahirkan para teroris.

“Saya tidak pernah mengatakan Wahabi teroris, banyak orang salah paham. Tapi doktrin, ajaran Wahabi bisa, dapat mendorong anak-anak muda menjadi teroris. Karena ketika mereka megatakan tahlilan musyrik, haul dan istighosah bidah, musyrik, dan ini-itu musyrik”. Ungkap Kyai Said Aqil.

“Nah, di hati dan pikiran anak-anak muda, kalau begitu orang NU musyrik, kalau begitu orang tua saya tahlilan musyrik juga, halal darahnya, bisa dibunuh. Kalau seperti itu, tinggal ada keberanian atau tidak, ada kesempatan dan kemampuan atau tidak, nekat dan tega atau tidak. Kalau ada kesempatan, ada keberanian, ada kemampuan, tinggal mengebom saja. Walau ajaran Wahabi sebenarnya mengutuk pengeboman, tidak metolerir, tapi ajaran mereka keras” tambahnya.

Ketua PBNU mencontohkan pesantren Assunnah, Kalisari Jonggrang, Cirebon Kota. Pemimpinnya Salim Bajri, sampai sekarang masih ada, punya santri namanya Syarifudin mengebom masjid Polresta Cirebon, punya santri namanya Ahmad Yusuf dari Losari, mengebom gereja kota di Solo. Ajarannya sih tidak pernah memerintahkan mengebom, tapi bisa mengakibatkan.

Polres Poso Gandeng Warga Antisipasi Terorisme

Minggu, 14 Oktober 2012 | 0 komentar


Kapolres Poso AKBP Eko Santoso yang baru dilantik mengantikan AKBP Pulung Rohmadiyanto mengatakan akan menggandeng masyarakat dalam mengantisipasi aksi-aksi terorisme yang meresahkan warga.

“Kita akan mengoptimalkan peran masyarakat untuk berpartisipasi dalam menjaga daerah dengan membentuk forum bantuan keamanan desa (Bankamdes),” kata Eko usai acara serah terima jabatan di Mapolda Sulawesi Tengah di Palu, Sabtu (13/10).

Bantuan keamanan desa itu beranggotakan masyarakat dan selanjutnya bekerja sama dengan pemerintah dan kepolisian untuk bahu-membahu menjaga keamanan Kabupaten Poso.

Mantan Kapolres Banggai Kepulauan ini juga meminta dukungan semua pihak untuk menjaga keamanan di Poso mengingat aksi teror di daerah ini cenderung meningkat. “Kita mohon doa restunya agar bisa menjalankan amanah ini,” katanya.

Untuk menjaga keamanan di Kabupaten Poso, Polri juga bekerja sama dengan aparat TNI dengan melakukan razia di sejumlah lokasi.

Dalam waktu enam pekan terakhir, terjadi dua insiden penembakan warga dan sebuah peledakan di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.

Satu korban bernama Noldy Ambolado, 35, warga Desa Sepe, Kecamatan Lage. Noldy tewas karena kepalanya ditembak dari jarak dekat oleh orang tidak dikenal pada 27 Agustus 2012.

Sementara pada 4 Oktober 2012, Hasman Sao, 27 mengalami luka serius di bagian leher karena ditembak orang misterius.

Belum usai penanganan kasus penembakan dan menangkap pelakunya, pada 9 Oktober 2012, terjadi ledakan bom di sebuah tempat di Kelurahan Kawua, Poso. Saat ini, pelaku teror itu masih dalam pengejaran aparat kepolisian. Situasi di Kabupaten Poso sendiri saat ini kondusif dan warga beraktivitas seperti biasanya.
 
© Copyright 2010-2011 TANAH KHATULISTIWA All Rights Reserved.
Template Design by Purjianto | Published by script blogger | Powered by Blogger.com.