Damai Itu Indah..........Damai Itu Indah..........Damai Itu Indah..........Damai Itu Indah..........

Kelompok-kelompok Teroris yang Beroperasi di Indonesia

Selasa, 22 Januari 2013 | 0 komentar


Al Chaidar Pengamat terorisme, mengatakan bahwa ada 9 kelompok teroris di Indonesia. Kendati beberapa kelompok sudah mulai terungkap dan tertangkap, sebagian anggota jaringan tersebut masih hidup dan merupakan ring of fire yang berbahaya. Kesembilan kelompok tersebut adalah,

  1. Abu Khalis (Pepi),
  2. Oman Abdurahman,
  3. Alfadullah
  4. KPPSI
  5. Tanzim Khaidatul Jihad
  6. Abu Umar/ Abu Fatih
  7. Taufiq Bulaga
  8. Kelompok Cirebon
  9. Kelompok Ternate


Nomer 1, 2, 3, 4, Merupakan Jaringan Daarul Islam (DI); berlatih di Aceh dan tidak memiliki hubungan dengan Al-Qaeda. Jaringan DI meneror dengan peledak jenis low explosive. Kelompok DI lebih banyak ditemukan ditempat-tempat permukiman padat atau kota-kota besar. Target utama aparat kepolisian, simbol-simbol Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berbentuk lembaga, seperti hanya polisi, Kejaksaan, DPR, Mahkamah Agung atau Istana.

Nomer 5, 6, 7, 8, 9, berada di bawah jaringan JI dan Al-Qaeda yakni kelompok Tanzim Khoidatul Jihad dan Taufiq Bulaga.  Dua kelompok memiliki ciri khas menggunakan peledak berkekuatan high explosive. Kelompok Abu Umar masih memiliki hubungan dengan kelompok Abu Sayyaf yang ada di Filipina Selatan, [klik SUMBER]

Untuk nomer  4, saya cukup heran (dan masih ragu), apakah yang di maksud oleh   Al Chaidar, sang Pengamat terorisme tersebut adalah Komite Persiapan Penegakan Syariat Islam (KPPSI) …!? Agaknya  Al Chaida dan MI yang patut menjawabnya dengan jelas. Hasil googling pun KPPSI, hanya menunjuk pada Komite Persiapan Penegakan Syariat Islam; walau seperti itu, kita perlu mengetahui lebih jelas lagi …. dan mudah-mudahan  Al Chaidar salah sebut.


Jika menurut polisi bahwa pelakunya itu-itu juga, maka ada beberapa hal yang sekiranya dapat dilakukan.  Misalnya,

menutup akses komunikasi antara teroris yang di luar  penjara dengan mereka atau para pentolan teroris yang ada di penjara
eksekusi hukuman mati, harus terus-menerus dilanjutkan
menutup semua web-situs penebar radikal, yang sekaligus penebar kekerasan - kebencian atas nama agama
membubarkan ormas-ormas keagamaan yang radikal dan anti Pancasila, termasuk parpol yang tida berazas Pancasila
para politisi radikal, sara, rasis, rasialis, (jika ada yang sebagai anggota badan legislatif), dipecat dan juga dihukum mati, karena mereka juga merupakan teroris serta pendukung para pelaku teror, atau bahkan penyandang dana
dan lain - lain
Kini, terpulang kepada pemerintah RI (atau rezim yang sekarang), mau negeri tegak berdiri atau hancur dengan membiarkan bibit-bibit teroris tersebut berkeliaran di Nusantara.

Ketum Nahdlatul Wathan: Teroris Mati Tidak Syahid

Senin, 21 Januari 2013 | 0 komentar


Zainul Majdi, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Wathan menegaskan bahwa teroris yang mati saat beraksi tidak bisa disebut sebagai syahid. Tindakan mereka yang meresahkan umat tidak dikategorikan sebagai jihad.

“Masyarakat tidak boleh keliru menafsirkan konsep jihad. Mari kita mengutuk tindakan teroris. Konsep jihad yang mereka anut itu keliru,” tandasnya seperti dilansir Gatra.

Zainul yang juga Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) meminta agar masyarakat NTB melakukan gerakan yang membuat para teroris tidak nyaman berada di wilayahnya. Ia mensinyalir, ada upaya infiltrasi kelompok tertentu untuk menjadikan NTB seperti Poso.

Sebelumnya pada awal Januari 2013, polisi menangkap 5 terduga teroris di Dompu dan Bima NTB. Mereka terpaksa ditembak mati lantaran membawa senjata api. Polisi masih mengejar 2 terduga teroris lain yang berhasil kabur dalam penyergapan itu.

Kapolda NTB Brigjen Pol Mochamad Irawan menyatakan bahwa keberadaan 7 terduga teroris tersebut di NTB sudah terdeteksi sejak Desember 2012.  Target utama mereka adalah kawasan wisata wisata pantai yang menjadi favorit peselancar dari pelbagai belahan dunia.

Sumber: Gatra

Dimana FPI.........!!!???

| 0 komentar

Sejak terjadinya banjir besar dari tanggal 17 januari 2013 sampai saat ini, berbagai elemen masyarakat dan organisasi baik pemerintah maupun swasta bahu membahu meringankan beban para korban banjir, 
diantaranya ;
TNI, POLRI, BASARNAS, TAGANA, PMI, DINAS PEMADAM KEBAKARAN, YAYASAN BUDHA TZU CHI LSM, WANADRI, KAMPUS-KAMPUS MAHASISWA, PARTAI, PERSATUAN ARTIS DLL...

Salut untuk kerja keras mereka semua, tapi sungguh mengherankan di antara mereka tidak tidak terlihat FPI yang sok suci.....!!

Jelas tindakan kemanusiaan lebih berdampak nyata daripada teriakan anti kemaksiatan dan ketulusan hati lebih dihargai daripada sekedar penampilan BERJUBAH PUTIH !!.
Membantu itu lebih baik daripada hanya berdemo dan berkoar-koar di saat suasana tertib membuat keributan, disaat bencana mereka tidak membantu malah membuat statemen konyol.

Jakarta Kebanjiran, Ormas-Ormas Islam Radikal Berstatemen Konyol

| 0 komentar


Intensitas hujan yang tinggi memaksa Jakarta harus berendam air selama beberapa hari. Berbagai macam komponen masyarakat pun sibuk bahu-membahu mendirikan posko bantuan. Di tengah-tengah keprihatinan dan kepedulian banjir ada berbagai macam statemen yang beredar di masyarakat tentang banjir ibukota. Salah satunya adalah ada yang milihat banjir di Jakarta merupakan azab tuhan lantaran ibukota sesak dengan kemaksiatan.

Sebagaimana dimuat Voa-Islam, Habib Muhammad Rizieq Syihab mengungkapkan bahwa banjir yang melanda Jakarta tak lepas dari maksiat yang dilakukan, terutama oleh Gubernur DKI Jakarta yaitu Jokowi. Senada dengan hal itu Ketua Forum Umat Islam (FUI) Bernard Abdul Jabbar menyatakan patung telanjang di istana kepresidenan sebagai sumber laknatullah banjir Jakarta seperti yang tertulis di al-khilafah.org.

Di dunia maya pernyataan tersebut menuai banyak tanggapan. Banyak kalangan menilai bahwa pernyataan ormas-ormas Islam radikal terkait banjir di Jakarta sangat konyol, irasional dan hanya semacam politisasi bencana.

Secara implisit Ketua Pengurus Cabang NU Amerika –Kanada, Akhmad Sahal, memahami statemen ormas Islam radikal yang membawa-bawa muatan teologis pada bencana banjir sebagai statemen yang ironis atau bahkan konyol. Sebagaimana tertulis di akun Facebooknya;

“Masjidil Haram pernah kebanjiran pada 1941. Ka’bah terendam. Padahal sebelumnya tidak ada pesta tahun baru. Tidak ada patung perempuan telanjang di situ. Dan gubernurnya pun bukan Jokowi-Ahok”.

Dialog Agama Radikal di Kalangan Pemuda

Selasa, 15 Januari 2013 | 0 komentar

Polri Kesulitan Membendung Terorisme Dunia Maya

Senin, 14 Januari 2013 | 0 komentar


Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Mabes Polri Brigjen Boy Rafli Amar mengatakan, kepolisian mensinyalir adanya upaya kelompok teroris merekrut anggota via dunia maya.

“Di dunia maya banyak aktivitas yang bisa terkait dengan terorisme,” katanya di Divisi Humas, Senin (14/1).

Dia menjelaskan, ada juga situsi-situs yang dibuat kelompok teror dengan menyediakan informasi seperti pembuatan bom rakitan, pelatihan aksi teror, ataupun propaganda terorisme. “Pelakunya, bisa jadi tidak berada di Indonesia,” lanjutnya.

“Karenanya perlu penyadaran pada masyarakat agar lebih selektif dalam menggunakan informasi yang tersedia di internet,” jelasnya.

Dia menambahakan Polri tak bisa membendung aktivitas yang terjadi di dunia maya. “Polri hanya bisa mengingatkan bahwa ada yang tak perlu diakses, memantau, menelusuri, dan menegakkan hukum,” pungkasnya.

Sumber: VIVAnews

Jihad “Berani Mati” Lebih Mudah Ketimbang Jihad “Berani Hidup”

Kamis, 10 Januari 2013 | 0 komentar


Aksi bom bunuh diri atas nama jihad lebih mudah dilakukan ketimbang implementasi jihad untuk menegakkan nilai-nilai ketuhanan di muka bumi. Jihad “berani mati” secara otomatis menyelesaikan tugas individu di muka bumi. Namun jihad “berani hidup” membuat manusia terus diwajibkan untuk menegakkan kemaslahatan umum hingga akhir hayatnya.

Hal ini ditegaskan oleh KH. Said Aqiel Siroj, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam Kuliah Umum bertajuk “Pemuda dan Ancaman Kekerasan Atas Nama Agama” yang digelar oleh Lazuardi Birru di kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Rabu (9/1/2013).

Menurut Kiai Said istilah jihad telah mengalami penyempitan dan pendangkalan makna. Jihad kerap diidentikkan dan sekadar dimaknai sebagai peperangan. Padahal makna dan implementasi jihad sangat luas.

Pria asli Kempek Cirebon Jawa Barat ini merujuk salah satu kitab yang jamak dikaji di pesantren yaitu I’anatut Thalibin syarah Fathul Muin. Dalam kitab tersebut, lanjut Kiai Said, diterangkan bahwa jihad memiliki empat macam bentuk yaitu;

Pertama, menegakkan eksistensi Allah Swt di muka bumi seperti dengan melantunkan adzan, dzikir, dan ayat-ayat Alquran. Kedua, menegakkan syariat Allah atau nilai-nilai universal agama seperti menunaikan shalat, puasa, zakat, haji, menegakkan keadilan, kejujuran, dan sebagainya.

Ketiga, perang fi sabilillah. Jihad dalam bentuk ini baru bisa dilakukan jika ada komunitas lain yang mengancam keselamatan masyarakat. Keempat, daf’u dhararil ma’shumin, musliman kana au dzimmiyan yaitu mencukupi kebutuhan orang yang ditanggung (oleh pemerintah) baik itu yang muslim ataupun non muslim. Pemenuhan kebutuhan tersebut meliputi kebutuhan sandang, pangan, papan, dan jaminan kesehatan.

“Proyek bernama jihad itu luas cakupannya. Teramat mudah jika sekadar diimplementasikan dengan berani mati,” tandas Kiai Said.
 
© Copyright 2010-2011 TANAH KHATULISTIWA All Rights Reserved.
Template Design by Purjianto | Published by script blogger | Powered by Blogger.com.