Damai Itu Indah..........Damai Itu Indah..........Damai Itu Indah..........Damai Itu Indah..........

Belajar Toleransi dari Nabi Muhammad SAW

Rabu, 02 Januari 2013 | 0 komentar


Ironi rasanya jika melihat muslim melakukan aksi-aksi kekerasan apalagi teror. Islam adalah agama damai. Bahkan sudah jelas disebutkan dalam Hadis bahwa Muhammad SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia yang itu berarti salah satunya menjadikan manusia lebih beradab dan toleran.

Menurut Prof. Dr. Quraisy Shihab, ada begitu banyak kisah Muhammad SAW yang merepresentasikan karakter toleran yang begitu tinggi. Bahkan dalam kadar tertentu Nabi SAW sangat mengedepankan toleransi dan perdamaian.

“Ketika terjadi Perjanjian Hudaibiyah, saat itu, dalam konsepnya Nabi menuliskan kalimat Bismillahi ar-Rahmani ar-Rahim. Namun oleh kaum Musyrik tidak disetujui. Mereka meminta agar ditulis menjadi Bismikallahumma. Nabi berkata kepada Ali bin Abi Thalib “hapus basmalah dan tulis bismikallahumma sesuai usul mereka!” Nabi menyusun dan menyatakan: “inilah perjanjian antara Muhammad Rasulullah dan wakil dari kaum musyrik Mekkah.” Pemimpin delegasi kaum musyrik berkata “seandainya kami mengakui engkau sebagai rasul Allah, maka kami tidak akan memerangimu. Tulis “perjanjian ini antara Muhammmad putra Abdullah!” Rasul pun berkata “hapus kata Rasulullah dan ganti dengan Muhammad putra Abdillah!”  Sayidina Ali dan sahabat-sahabatnya tidak ingin bertoleransi dalam hal ini, mereka enggan menghapusnya. Tetapi Nabi yang penuh dengan toleransi itu menghapus 7 kata demi kemaslahatan, demi perdamaian” dedah Quraisy Shihab.

Polisi Mengendus Jaringan Teroris Baru Poso

| 0 komentar


Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror mengendus adanya jaringan teroris baru di Poso, Sulawesi Tengah. Jaringan tersebut terpisah dari jaringan Santoso alias Abu Wardah dan Taufik Bulaga alias Upik Lawanga.

Kepala Divisi Humas Kepolisian RI, Inspektur Jenderal Suhardi Alius, belum mau menjelaskan lebih jauh soal itu. “Progres-nya belum kami terima,” kata Suhardi, Rabu, 2 Januari 2012.

Santoso dikenal sebagai pemimpin pelatihan teror di Poso. Dia diduga masuk dalam bagian kelompok Poso, Pesisir Utara. Santoso juga pernah tinggal di Tambarana, Kecamatan Poso, Pesisir Utara. Sejak buron, keberadaan Santoso misterius. Adapun istri dan anaknya masih tinggal di Tambarana.

Polisi menduga Santoso terlibat teror di Poso belakangan ini. Terakhir, insiden penembakan rombongan patroli personel Brimob saat melintas di Desa Tambarana pada 20 Desember lalu. Penembakan ini menewaskan empat orang polisi bernama Briptu Ruslan, Briptu Winarto, Briptu Wayan Putu Ariawan, dan Briptu Eko Wijaya. Dua orang terluka bernama Briptu Siswandi Yulianto dan Briptu Lungguh Anggara.

Sehari kemudian, Kepolisian menangkap lima orang yang diduga terkait dengan penembakan tersebut. Mereka adalah Riyadi alias Mas Riad, Sugiyanto Latif alias Papa Latif, Agus alias Solihin, Muhrin, dan Sony Hermawan alias Pakde.

Kelimanya diduga anak buah Santoso. Mereka disangka berperan membantu pelatihan teror di kawasan pegunungan di Desa Karola dan memasok logistik kepada peserta pelatihan. Mereka berlima sudah dibawa ke Jakarta.

Adapun Upik Lawanga merupakan buron Densus 88. Upik pernah tinggal di Poso Kota. Dia diduga terlibat dalam konflik horizontal berlatar belakang agama di Poso pada 2005 lalu. Upik dikenal ahli dalam merakit bom pipa dan menjadi murid ahli bom Dr. Azahari Husein, yang tewas di Batu, Jawa Timur. 

Kapolri: Operasi Teritoral Khusus Poso Dimulai

| 0 komentar


POSO- Kapolri Jenderal Polisi Timur Pradopo menyatakan polisi telah memulai operasi teritorial khusus di Poso, Sulawesi Tengah. Operasi teritorial dilaksanakan sebagai upaya Polri untuk merebut simpati dan dukungan masyarakat guna bersama-sama menjaga keamanan di Poso yang mulai kondusif.

Dari hasil pertemuan dengan tokoh masyarakat dan agama serta Pemerintah Kabupaten Poso pada Rabu, 2 Januari, Timur mengatakan, pihaknya mendapat banyak masukan untuk segera dilaksanakan.

Timur menyatakan Polri telah memulai operasi teritorial khusus untuk penanganan Poso. Dengan jalan tersebut diharapkan dapat merekrut dan mengajak masyarakat untuk menjaga wilayah Poso agar tetap aman dan kondusif. Hal tersebut dilakukan secara terpadu dengan melibatkan masyarakat, TNI dan Polri. 

Sementara itu, terkait keberadaan kelompok bersenjata yang hingga kini masih berkeliaran, Kapolri menegaskan polisi berupaya secepatnya untuk mengejar dan menangkap kelompok  tersebut. 

Kapolri menyebut, Santoso adalah bagian di antara yang memimpin kelompok bersenjata tersebut. 

Meskipun telah menewaskan enam anggota Polri pada 2012 silam, namun aparat Kepolisian hingga kini belum mengetahui secara pasti keberadaan kelompok itu. 

MUI: Syariat Islam tak Mengatur Wanita Ngangkang

| 0 komentar


JAKARTA- Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Amidhan, mengatakan, dalam Syariat Islam, tidak ada aturan yang secara jelas membahas perempuan duduk ngangkang. Hal tersebut disampaikan untuk menyikapi Pemerintah Kota Lhokseumawe, Aceh, yang akan memberlakukan larangan bagi perempuan duduk terbuka atau ngangkang di atas sepeda motor.

Menurut Amidhan, hal tersebut lebih menyangkut etika dan sopan santun, bukan pada hukum Syariat Islam. Bahkan jika dengan duduk ngangkang, lanjut Amidhan, tidak membahayakan ketika mengendarai sepeda motor, maka hal tersebut justru dianjurkan.

“Kalau dengan duduk ngangkang (perempuan) tidak jatuh dari motor, ya boleh-boleh saja. Daripada duduk searah tapi membahayakan diri sendiri,” katanya ketika dihubungi Okezone melalui telefon, Rabu 2 Januari malam.

Asal saat mengendarai sepeda motor, perempuan tersebut tidak berlebihan dan memamerkan auratnya, maka duduk ngangkang hukumnya sah. Selain itu, dalam keadaan darurat, seorang perempuan juga diperbolehkan membonceng laki-laki yang bukan muhrimnya.

“Untuk kepentingan yang mendesak, maka hal tersebut di-ma’fu (dimaafkan),” tambahnya.

Kendati demikian, menurut Amidhan, aturan yang akan diberlakukan di Lhokseumawe itu karena sebagai daerah otonomi khusus sehingga dapat membuat aturan tersendiri. Ada tiga hal yang menjadi landasan diterbitkannya suatu aturan baru yakni, pada aspek budaya, pendidikan, dan Agama Islam.

“Jika ada warga yang protes dengan aturan itu, maka mestinya ditanyakan dulu sebelum diberlakukan,” lanjutnya.

Larangan perempuan ngangkang ketika mengendarai sepeda motor, tambah Amidhan, bisa jadi hanya cocok diberlakukan di Aceh dan beberapa daerah lain yang memiliki kebiasaan atau budaya menutup aurat.

“Seperti Kalimantan Selatan dan Sumatera Barat yang kental nuansa agamanya, perempuan kalo dibonceng duduknya satu arah. Itu bukan karena aturan agama, melainkan kebiasaan dan budaya di sana,” tuturnya.

Berbeda halnya ketika di kota besar seperti Jakarta, perempuan yang duduk satu arah ketika dibonceng sepeda motor justru mengancam keselamatan jiwanya. Sebab kondisi lalu lintas yang padat dan macet, membuatnya rawan jatuh.

“Kondisional aja, itu gak cocok kalau diterapkan di kota-kota besar seperti Jakarta,” tutupnya. 

Teroris Poso Terus Mencari Kader

Rabu, 26 Desember 2012 | 0 komentar


Pengamat Intelejen Wawan Purwanto memprediksi, Daftar Pencarian Orang (DPO) nomor satu di Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng), Santoso akan terus memperkuat kelompoknya dengan merekrut orang baru untuk melakukan aksi teror.

Menurut Wawan, DPO tersebut tidak akan berhenti dengan kelompok yang ada saat ini. Terlebih dia menduga Santoso adalah dalang di balik penyerang yang menewaskan tiga anggota Brimob beberapa waktu lalu.

“Dia tidak akan tinggal diam, Santoso akan terus merekrut orang-orang baru untuk dia ajak dalam melakukan aksi,” jelas Wawan saat dihubungi Sindonews, Senin (24/12/2012).

Wawan menjelaskan, dia butuh penanganan khusus dari Polri untuk mengentaskan kasus tersebut, salah satunya ialah dengan berkoordinasi dan meminta bantuan dari aparat TNI.

“Perlu penanganan khusus untuk tidak teroris ini dan yang ada di Poso,” ucapnya.

Menurutnya, dengan tambahan personel dari TNI, maka tugas polisi sebaga penjaga keamanan akan terbantu dengan kemampuan TNI yang biasa terlatih untuk proses peperangan.

“Maka ada juga back up dari TNI untuk bisa mendukung dan mereka sudah biasa bertempur dan Polri sudah melatih keamanan dan kemananan, jadi keduanya biasa saling sinergi untuk menyelesaikan kasus ini,” tukasnya.

Menilik Toleransi Antarumat Beragama melalui Tata Kota

| 0 komentar


Dalam kehidupan berbangsa yang diisi dengan berbagai macam perbedan sebagaimana di Indonesia, pola laku toleransi menjadi hal yang tidak bisa diabasikan. Dengan toleransi, kehidupan yang damai dalam sebuah perbedaan menjadi mungkin. Sebaliknya tanpa toleransi, ketegangan antar-kompenen bangsa akan menegang dan konflik yang dapat bermuara pada perpecahan nantinya menjadi keniscayaan.

Maka menjadi kewajiban bagi segenap warga negara untuk mendisseminasikan toleransi ke seluruh penjuru nusantara. Begitu banyak kawasan di Indonesia yang bisa dikatakan patut menjadi teladan dalam kehidupan yang bertoleransi. Salah satunya adalah di Kabupaten Bangka Barat yang tercerminkan pada tata kotanya.

Adalah di sudut kota Muntok, tepatnya di Kampung Tanjung, Kecamatan Muntok, toleransi antarumat beragama itu tampak.

“Yang menarik di sini adalah, Kelenteng Kong Fuk Miau dibangun tepat bersebelahan dengan masjid tertua di Bangka Barat, Masjid Jami,” kata penjaga kelenteng, So Chin Siong di Muntok.

So Chin Siong mengatakan, Kelenteng Kong Fuk Miau dan Masjid Jami telah berdiri berdampingan lebih dari 130 tahun. “Dan selama itulah kami saling mendukung, namun tidak mencampuri urusan keagamaan masing-masing,” kata So Chin Siong.

Dikatakan So Chin Siong, jika Masjid Jami sedang melaksanakan ibadah, maka Kelenteng akan rehat dari kegiatannya dan memberikan kesempatan bagi jemaah masjid untuk melakukan ibaadah.

“Biasanya yang sering bentrok adalah kegiatan latihan Barongsai dan shalat Jumat, jadi setiap jadwal shalat, kami rehat dulu,” katanya.

Kelenteng Kong Fuk Miau dibangun oleh orang-orang China dari suku Kuantang dan Fu Kien yang telah lama menetap di Muntok sejak 1820, membuatnya menjadi kelenteng pertama di Muntok.

Kompleks Kelenteng terdiri dari tiga buah bangunan dengan bangunan utama berada di tengah. Bangunan utama memiliki atap berbentuk pelana, sedangkan komponen lain adalah gapura utama, pagar keliling, halaman, pagoda dan arca Singa. Setiap pagi dan sore hari pada pukul lima, So Chin Siong, sang penjaga kelenteng akan memukul bedug sebanyak 36 kali.

Awas, Kini Teroris Lebih Berbaur dengan Masyarakat

| 0 komentar


Beberapa hari terakhir kondisi Poso kembali dihubungkan dengan berbagai macam peristiwa terorisme. Meskipun keadaan belum mencapai level gawat, namun tetap saja hal ini patut diwaspadai bersama, baik pemerintah dan masyarakat, mengingat sebagaimana diketahui Poso memiliki sejarah konflik berdarah yang mencederai kehidupan seluruh warga Indonesia.

Terlebih lagi menurut Kapolri Jenderal Timur Pradopo para terduga teroris sekarang ini sengaja membaurkan diri dengan masyarakat setempat. Suatu strategi yang sangat membahayakan, karena bisa-bisa masyarakat terprovokasi oleh musuh dalam selimut ini untuk melakukan aksi terorisme.

Keadaan itu membuat aparat keamanan memutar otak untuk menangkal strategi para teroris tersebut. Polisi sangat berharap masyarakat dapat memilah mana yang baik dan membahayakan bagi kehidupan masyarakat.

“Agar masyarakat bisa memisahkan, memilahkan yang harus ditindak secara hukum bukan melindungi. Karena itu merugikan orang lain,” kata Wakapolri, Komjen Pol Nanan Sukarna menambahkan.

Terakhir, tepat di hari natal ditemukan bom dalam bentuk laptop di Pos terpadu Polisi Depan Pasar Sentral Poso. Beruntung bom tersebut berhasil diledakan tim Jibom Gegana. Dari laptop tersebut positif detonator dan timer dengan waktu ledak pukul 18.00 WIT. 
 
© Copyright 2010-2011 TANAH KHATULISTIWA All Rights Reserved.
Template Design by Purjianto | Published by script blogger | Powered by Blogger.com.